Selamat Datang di "Coba Bercerita, Yuk!" Ada banyak makna di balik cerita, maka berceritalah melalui tulisan!

Sabtu, 16 April 2011

Artikel : Memilih dan Merangkai Kata, Sulitkah?

by : Hasfa Publisher on Saturday, April 16, 2011 at 5:09 pm

Sumber :

Note Hasfa Publisher dari (I Love Writing oleh I Ketut Suweca, edukasi.kompasiana.com)

Diskusi Fiksi. Menulis Fiksi. Membaca Fiksi. (Universal Nikko+MayokO aikO) ---> Documen.

“Seorang penulis mengatakan bahwa menulis itu perlu kecermatan, harus pandai memilih kata untuk menyampaikan maksud, juga pandai merangkaikannya sehingga menjadi kalimat yang efektif. Aku mengerti, tetapi bagaimana melakukannya?”

Pada artikel sebelumnya pembicaraan kita telah sampai pada persoalan kerangka karangan atau outline. Kini kita masuk sedikit ke materi yang lebih spesifik, yakni bagaimana memilih kata-kata yang tepat untuk mewakili suatu maksud dan bagaimana pula merangkaikannya sehingga menjadi sebuah kalimat yang benar-benar efektif. Sebuah artikel menjadi media bagi penulis untuk menyampaikan ide atau maksud secara tepat seperti apa yang dikehendakinya.

Contoh sederhana adalah yang berkenaan dengan perolehan hasil ujian dua orang mahasiswa berikut ini. Mahasiswa A mendapatkan nilai ujian esai 95 sedangkan B memperoleh 65, walaupun kedua-duanya belajar bersama dan mempunyai tingkat kemampuan penyerapan materi kuliah kurang-lebih sama. Karena si A memiliki keterampilan menulis secara efektif, maka ia mampu secara jernih menuangkan jawaban tertulis ke atas kertas. Si B tidak terlatih menulis, sehingga ia mengalami kesulitan mengurai jawaban dengan paripurna yang sebenarnya sudah dimilikinya. Persoalan terjadi ketika si B hendak menuangkan ide-idenya ke atas kertas. Hambatan keterbatasan perbendaharaan kata menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Dengan ilustrasi di atas, jelaslah betapa kemampuan berbahasa tulis itu penting untuk menyampaikan maksud atau gagasan ke atas kertas. Tanpa kemampuan berbahasa tulis dengan baik, belum tentu seabreg ide yang dimiliki dapat dituangkan dengan sepenuh-penuhnya. Kendati pun berhasil juga dituangkan, belum tentu pula apa yang dituliskan itu tepat dengan maksud si penulisnya.

Berkenaan dengan pemilihan kata dan pembentukan kalimat dalam bahasa tulis, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yakni:

1. Pilihlah kata yang tepat dengan konteksnya. Setiap kata memiliki nuansa maknanya tersendiri. Perhatikan kata-kata ini: melihat, memperhatikan, mencermati, mengamati, dan menyelidiki. Mana yang akan kita pilih di antara sejumlah kata yang mirip artinya itu? Ingatlah, setiap kata memilihi nuansa maknanya tersendiri. Jadi, kita mesti cermat memilih.

2. Pilihlah kata yang kontributif dan aktif. Jangan menggunakan kata-kata yang sekadar hadir dan tidak memberikan kontribusi dalam membangun makna. Pilihlah kata kerja aktif, kurangi kata kerja pasif. Pakailah lebih banyak kata-kata yang berawalan ‘me’ dibanding yang berawalan ‘di’.

3. Buatlah variasi kata. Kita bisa menerapkan kata yang berbeda tetapi bermakna sama. Misalnya, kata ‘bisa’ sekali waktu diganti dengan ‘dapat’. Kata ‘mungkin’ diselingi kata ‘barangkali’, kata ’supaya’ dapat diganti dengan ‘agar’, dan seterusnya. Kata-kata yang monoton hanya akan membosankan pembaca.

4. Pilihlah kata yang mudah dipahami. Jika ada pilihan kata yang lebih sederhana dan dengan mudah dipahami pembaca, maka pilihlah kata-kata itu. Hindari pilihan yang mengakibatkan pembaca mengerutkan kening atau yang memiliki kemungkinan interpretasi ganda.

5. Terapkan ekonomisasi kata. Artinya, jangan pernah meletakkan sebuah kata tanpa fungsi. Setiap kata yang dirangkai menjadi kalimat hendaknya berfungsi dengan jelas dan pasti. Tes kehadiran kata itu dengan mencoba mencoretnya dari kalimat. Jika kalimat menjadi terganggu tanpa kehadiran kata dimaksud, berarti memang kata tersebut sudah selayaknya dipasang di situ. Jika dengan pencoretan itu, ide yang disampaikan tidak terganggu, maka jangan dipasang lagi di situ. Buang saja.

6. Perluas perbendaharaan kata. Kian banyak kosa kata yang dimiliki penulis, kian meningkat juga kemampuannya mengekspresikan ide-idenya ke dalam bahasa tulis.

Walau pun demikian ‘teori’-nya, para calon penulis tidak perlu khawatir. Saya pun praktik menulis sambil belajar teori menulis. Sekali waktu salah tidak mengapa, tetapi kalau kesalahan yang sama terus berulang, maka perlu upaya pembenahan. Resepnya: menulis dan menulislah terus. Di sela-sela aktivitas menulis, jangan lupa buka-buka kamus dan buku petunjuk bagaimana menggunakan bahasa tulis dengan baik dan benar. Tidak ada yang demikian sulit, kecuali kita emoh belajar.

(I Love Writing oleh I Ketut Suweca, edukasi.kompasiana.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentarnya....